Gunung Slamet Waspada, Bupati Pemalang Instruksikan Simulasi Evakuasi Siang dan Malam

  • Bagikan
Oplus_131072
banner 468x60

PEMALANG – Pemerintah Kabupaten Pemalang mulai memperketat langkah mitigasi menyusul peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Slamet yang kini berstatus Level II (Waspada). Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, menginstruksikan jajarannya untuk segera menggelar simulasi evakuasi secara matang guna menjamin keselamatan warga di zona bahaya.

​Dalam audiensi kesiapsiagaan bencana yang digelar di Pos Pengamatan Gunung Api Slamet, Desa Gambuhan, Rabu (29/4/2026), Bupati Anom menekankan bahwa skenario penyelamatan tidak boleh hanya dilakukan di atas kertas. Ia meminta simulasi mencakup kondisi waktu yang berbeda untuk menguji kesiapan mental masyarakat dan petugas.​“Harus ada simulasi pada saat kejadian siang hari maupun malam hari. Jalur-jalur mana yang boleh dilalui harus dipraktikkan langsung. Jika tidak dipandu, masyarakat cenderung bergerak sendiri-sendiri sesuai insting mereka, dan itu sangat berbahaya,” tegas Anom di hadapan para kepala OPD dan perangkat desa.

Example 300x600

Navigasi Visual dan Radius Aman 3 KM

​Sebagai langkah taktis, Bupati mengusulkan pemasangan penanda visual yang mencolok di titik-titik krusial, baik berupa simbol warna maupun bendera. Hal ini bertujuan agar warga tidak bingung mencari arah saat situasi darurat terjadi.

​Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Pemalang, Agus Ikmaludin, melaporkan bahwa berdasarkan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) per 14 April 2026, radius aman telah diperluas dari 2 kilometer menjadi 3 kilometer dari kawah.

​“Meskipun dalam 12 tahun terakhir tidak ada aktivitas yang sangat signifikan, kita tidak boleh lengah. Kami sudah mulai memetakan jalur evakuasi alternatif dan melakukan sosialisasi intensif bersama PVMBG wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah,” jelas Agus.

Kesiapan Infrastruktur: Hindari Jalur Sungai

​Terkait aksesibilitas, Kepala UPJI Wilayah III Dinas PU-PR Kabupaten Pemalang, Yudhi Kuswoyo, memastikan bahwa infrastruktur jalan kabupaten maupun desa dalam kondisi siap digunakan. Namun, ia memberikan catatan penting mengenai pengaturan arus lalu lintas saat erupsi terjadi.

  • 30 Menit Pertama: Seluruh jalur bisa digunakan untuk mobilisasi massa secara cepat.
  • Pasca 30 Menit: Petugas akan mengarahkan warga ke jalur khusus yang sudah ditentukan untuk menghindari ‘jalur merah’ atau area yang bersinggungan langsung dengan aliran sungai (risiko lahar dingin/material vulkanik).

Sekilas Kondisi Gunung Slamet

​Koordinator Pos Pengamatan Gunung Api Slamet, Muhammad Rusdi, menambahkan bahwa pantauan terus dilakukan selama 24 jam. Pos Gambuhan sendiri mengaver pengamatan untuk lima wilayah terdampak, yakni, ​Pemalang, ​Tegal, ​Brebes, ​Banyumas, ​Purbalingga

​Audiensi ini menjadi momentum penguatan koordinasi antara pemerintah daerah dan pihak desa di Kecamatan Pulosari. Pemerintah berharap dengan persiapan yang presisi, risiko jatuh korban jiwa dapat ditekan hingga titik nol jika sewaktu-waktu Gunung Slamet mengalami erupsi.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *