Liputan24Times — Pasar memori komputer akhirnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah harga RAM melonjak tajam sepanjang tahun terakhir.
Penurunan ini menjadi kabar baik bagi gamer, perakit PC, kreator konten, hingga pelaku industri teknologi yang selama ini terbebani lonjakan harga komponen memori dikutip dari The Athletic Jumat, (8/5/2026).
Dalam beberapa pekan terakhir, harga RAM DDR4 dan DDR5 mulai bergerak turun di berbagai pasar global.
Sebelumnya, harga memori sempat melonjak ekstrem akibat tingginya permintaan industri kecerdasan buatan (AI) yang memicu krisis pasokan.
Laporan DigiTimes menyebut harga spot RAM DDR4 16 GB turun sekitar 5 persen dan kini berada di kisaran 74 dollar AS atau sekitar Rp 1,2 jutaan.
Penurunan ini menjadi yang pertama sejak lonjakan besar terjadi pada tahun lalu.
Meski mulai turun, harga RAM saat ini masih jauh lebih mahal dibanding periode sebelum ledakan AI. Tahun lalu, modul memori serupa hanya dijual sekitar 3 dollar AS.
Penurunan harga juga mulai terlihat pada RAM DDR5. Beberapa distributor di China bahkan memangkas harga kit DDR5 32 GB hingga 30 persen untuk mempercepat penjualan stok yang menumpuk di gudang.
Tidak hanya di China, sejumlah marketplace global seperti Amazon juga mulai menampilkan tren penurunan harga memori, terutama untuk segmen gaming dan PC rakitan.
Ada dua faktor utama yang mendorong harga RAM mulai melemah di pasaran.
Faktor pertama datang dari distributor dan penimbun stok memori, terutama di China. Mereka kini ramai-ramai melepas stok setelah permintaan pasar konsumen melemah.
Banyak vendor kecil mulai kesulitan membeli RAM dengan harga tinggi sehingga distribusi memori ikut melambat.
Faktor kedua berasal dari teknologi baru milik Google bernama TurboQuant. Teknologi ini mampu mengompresi penggunaan memori AI hingga enam kali lebih efisien saat menjalankan model bahasa besar atau LLM.
Kehadiran TurboQuant membuat banyak pelaku pasar khawatir permintaan RAM dari pusat data AI bakal menurun.
Kekhawatiran tersebut memicu aksi jual stok memori dalam jumlah besar agar distributor tidak menahan barang terlalu lama.
Meski harga spot RAM mulai turun, kondisi ini belum tentu langsung membuat harga laptop atau PC rakitan ikut murah dalam waktu dekat.
Sebab, produsen laptop besar biasanya membeli memori lewat kontrak jangka panjang, bukan melalui harga harian di pasar bebas.
Lembaga riset TrendForce bahkan memprediksi harga DRAM dan NAND Flash masih berpotensi naik pada kuartal kedua 2026 karena permintaan industri AI tetap tinggi.
Namun bagi pengguna yang ingin merakit PC atau menambah kapasitas RAM, kondisi pasar saat ini dinilai cukup ideal untuk membeli komponen sebelum harga kembali melonjak.



















