PEMALANG, Liputan24times – Wajah Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, resmi berubah. Alun-Alun Moga yang dulunya kumuh kini telah bertransformasi total menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang estetik, ramah keluarga, sekaligus menjadi pusat olahraga dan interaksi publik. Di balik manisnya hasil gotong royong yang diresmikan oleh Bupati Pemalang pada Kamis (28/5/2026) kemarin, ada satu nama yang menjadi nakhoda utama perubahan: Gus Haris Jayantaka.
Bukan sekadar penyumbang dana terbesar, Gus Haris adalah kompas yang mengarahkan jalannya pembangunan fisik di lapangan.

Dedikasi 24 Jam Tanpa Lelah
Ketika ide revitalisasi digulirkan, Gus Haris tidak memilih menjadi donatur yang duduk manis di balik meja. Selama satu bulan penuh proses pengerjaan, ia dan timnya seolah “mendirikan tenda” di lokasi proyek. Nyaris 24 jam dalam sehari, sosoknya selalu terlihat mengawal pekerja.
Bahkan saat malam telah larut dan proyek fisik rehat sejenak, Gus Haris kerap kembali ke lokasi. Di bawah lampu temaram alun-alun, ia duduk santai bersama timnya hingga dini hari, bukan sekadar melepas lelah, melainkan mematangkan strategi dan membahas detail pekerjaan hari berikutnya agar hasilnya presisi.
Dedikasi luar biasa ini diakui langsung oleh Camat Moga, Drajat, S.Hut., M.M., saat memberikan sambutan dalam acara peresmian yang berlangsung meriah tersebut.
”Terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu kegiatan revitalisasi ini. Terima kasih wabil khusus untuk Gus Haris yang sudah menyumbangkan Rp140 juta. Bukan hanya uang, tetapi juga tenaga yang luar biasa,” ujar Drajat emosional, seraya mengapresiasi tim Rescue Moga yang ikut mengawal ketat proyek fisik ini.

Dari Tempat Sampah Menjadi Kebanggaan warga
Melihat kondisi Alun-Alun Moga saat ini, hampir sulit mempercayai cerita masa lalunya. Sebelum bersolek, kawasan ini merupakan titik mati yang dihindari warga.
”Perlu saya sampaikan, sebelum direnovasi tempat ini begitu kumuh, kotor, dan bahkan kadang dijadikan tempat pembuangan sampah,” kenang Drajat di hadapan Bupati Pemalang, Anom Widiantoro, serta jajaran Pimpinan Daerah OPD dan tokoh masyarakat yang hadir.
Lampu hijau dari Bupati kemudian ditindaklanjuti Drajat dengan merangkul para tokoh masyarakat, termasuk Gus Haris, untuk menyatukan visi. Namun, perjalanan membawa perubahan tidak pernah instan. Isu miring sempat berembus, menuduh proyek ini menggunakan dana negara demi kepentingan tertentu.
Drajat pun menepis keras rumor tersebut di atas panggung peresmian. “Walaupun ketika proses pembangunan sedang dilakukan masih terdengar suara sumbang dengan tuduhan bahwa anggaran menggunakan APBD, demi Allah, anggaran yang digunakan murni swadaya,” tegasnya.
Secara rinci, pembangunan infastruktur ini disokong oleh bantuan pribadi Bupati Pemalang sebesar Rp20 juta, sumbangan Camat Moga Rp30 juta, dan sokongan masif dari Gus Haris senilai Rp140 juta, ditambah kontribusi swadaya masyarakat lainnya.

Jadi Role Model untuk Pemalang
Gerakan swadaya masif yang dikomandoi oleh tokoh lokal seperti Gus Haris ini menuai pujian setinggi langit dari Bupati Pemalang, Anom Widiantoro. Bagi Bupati, apa yang terjadi di Moga adalah sebuah potret ideal kemandirian sebuah wilayah.
”Ini menjadi potret pembangunan serta menjadi motor penggerak pembangunan di Kabupaten Pemalang. Konsep swadaya seperti ini terbukti bisa kita jadikan fondasi kuat,” ungkap Anom kagum.
Bupati berharap energi positif dan semangat “keringat bersama” yang ditunjukkan warga Moga bisa menular ke wilayah-wilayah lain di Pemalang.
”Saya berharap ini bukan hanya berhenti di sini. Langkah ini bisa ditiru oleh kecamatan lain untuk membuka ruang terbuka hijau di tempat masing-masing. Mari kita saling mendukung, ini dari kita untuk kita,” tuturnya.
Di akhir acara, Bupati menitipkan pesan penting agar kemegahan Alun-Alun Moga yang dibangun dengan tetesan keringat dan kerja keras siang-malam tersebut dijaga bersama-sama. “Kita harus menjaga hasil dari pembangunan ini, sama-sama menjaga kebersihan dan lingkungan,” pungkas Bupati.
Kini, Alun-Alun Moga telah berdiri megah. Sebuah monumen hidup yang membuktikan bahwa ketika pemerintah, masyarakat, dan tokoh berdedikasi tinggi seperti Gus Haris bergerak bersama, perubahan besar bukanlah hal yang mustahil.



















