Liputan24Times – Kecerdasan buatan semakin membantu aktivitas kerja, mulai dari menulis, merangkum informasi, hingga mencari solusi dalam hitungan detik.
Namun di balik kemudahan tersebut, para peneliti mulai menyoroti dampak negatif jika pengguna terlalu bergantung pada AI untuk menyelesaikan berbagai tugas sehari-hari.
Penggunaan AI memang mampu meningkatkan produktivitas, tetapi sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan berlebihan dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, daya ingat, hingga fokus seseorang.
Para ilmuwan menilai kondisi ini mirip dengan fenomena yang pernah terjadi pada pengguna GPS dan mesin pencari.
Ketika teknologi mengambil alih sebagian proses berpikir, otak cenderung mengurangi upaya untuk mengingat, menganalisis, dan mengambil keputusan secara mandiri.
Beberapa studi bahkan menemukan bahwa pengguna AI yang terlalu sering menyerahkan proses pemecahan masalah kepada mesin cenderung memperoleh skor lebih rendah dalam pengujian berpikir kritis.
Fenomena tersebut dikenal sebagai cognitive surrender, yaitu kondisi ketika seseorang lebih mempercayai jawaban AI dibandingkan penilaiannya sendiri.
Meski begitu, para ahli tidak menyarankan masyarakat untuk menjauhi AI. Sebaliknya, pengguna perlu menjadikan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti cara berpikir.
Bentuklah pendapat sendiri terlebih dahulu sebelum meminta bantuan AI, lalu gunakan hasilnya sebagai bahan pembanding atau pengembangan ide.
Selain itu, biasakan mencatat poin-poin penting saat menggunakan AI.
Kebiasaan sederhana ini membantu otak tetap aktif mengolah informasi sehingga manfaat teknologi dapat dirasakan tanpa mengorbankan kemampuan berpikir manusia.



















