banner 728x250

Komentar WhatsApp Picu Protes, Perangkat Desa di Pemalang Sampaikan Maaf Terbuka

  • Bagikan
banner 468x60

PEMALANG Liputan24times– Situasi di Desa Tanahbaya, Pemalang, yang sempat memanas akibat komentar seorang perangkat desa di media sosial, akhirnya kembali kondusif. Perangkat desa yang bersangkutan telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka setelah ucapannya di WhatsApp menuai kecaman dari kalangan jurnalis dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Polemik ini bermula dari sebuah unggahan komentar di status WhatsApp yang dianggap merendahkan profesi wartawan dan LSM. Komentar yang viral di berbagai grup percakapan itu berbunyi:
“Wartawan kr LSM kucluk ora ngerti tp sok tau.. omongane janji njeplak.”

Example 300x600

Pernyataan ini sontak memicu reaksi keras. Kalangan wartawan dan aktivis LSM, yang merasa profesinya dilecehkan, menilai ucapan tersebut tidak pantas dilontarkan oleh seorang aparatur desa. Buntutnya, sejumlah organisasi berencana menggelar aksi unjuk rasa di balai desa Tanahbaya untuk menuntut klarifikasi dan permintaan maaf.

Menyadari kegaduhan yang ditimbulkan, perangkat desa tersebut segera mengambil langkah de-eskalasi. Ia merekam dan menyebarkan sebuah video klarifikasi berisi permohonan maaf.

Dalam video tersebut, ia menjelaskan bahwa telah terjadi kesalahpahaman dalam penafsiran kata yang ia tulis. Ia mengaku tidak bermaksud menulis “kucluk”, melainkan “ngucluk”.
“Kepada wartawan yang saya hormati, saya memohon maaf dengan setulus-tulusnya,” ucapnya dalam video. “Sebetulnya saya tidak berniat menyebut kucluk, tapi ngucluk, karena artinya tiap wilayah beda. Kalau ngucluk itu seperti ngoyo, terlalu cepat membuat kesimpulan. Tapi apa pun itu, saya memohon maaf yang setulus-tulusnya.”

Permintaan maaf terbuka ini ditanggapi positif oleh perwakilan LSM. Surino, Ketua LSM Naga Hitam Pemalang, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima permohonan maaf tersebut.

Menurut Surino, pernyataan perangkat desa itu memang sempat membuat geram rekan-rekan jurnalis dan aktivis. Namun, karena tuntutan utama mereka, yaitu permohonan maaf terbuka, telah dipenuhi, rencana aksi pun dibatalkan.
“Alhamdulillah, yang bersangkutan telah melakukan permohonan maaf secara terbuka. Artinya, tuntutan kami telah dipenuhi sebelum aksi,” ujar Surino.
“Sehingga kami membatalkan aksi yang rencananya akan digelar Jumat mendatang.”
Dengan diselesaikannya masalah ini secara damai, kedua belah pihak berharap insiden ini dapat menjadi pelajaran bersama, khususnya dalam menjaga etika komunikasi publik dan saling menghormati peran masing-masing dalam kontrol sosial.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *