Liputan24times – Lesunya penjualan mobil sepanjang 2025 menimbulkan kekhawatiran terhadap sektor asuransi kendaraan, yang sangat bergantung pada performa industri otomotif. Premi asuransi kendaraan biasanya sejalan dengan jumlah mobil dan motor yang dibeli, terutama melalui kredit.
Namun, PT Asuransi Astra optimistis kondisi ini masih bisa terkelola berkat portofolio bisnis yang lebih beragam. Head of Communication and Customer Service Management Asuransi Astra, Laurentius Iwan Pranoto, menekankan bahwa lini asuransi kesehatan dan komersial membantu menopang pendapatan ketika segmen otomotif melemah.
“Jika otomotif melemah, bisnis health dan komersial kami cukup mendukung. Dari total portofolio, health menyumbang sekitar 20% dan komersial sekitar 30-40%, sisanya dari kendaraan bermotor. Jadi meski penjualan mobil lesu, premi kami masih tumbuh,” jelas Iwan.
Keterkaitan dengan Pembiayaan Kendaraan
Iwan menambahkan, pertumbuhan asuransi kendaraan erat kaitannya dengan performa leasing. Selama perusahaan pembiayaan masih mencatat kenaikan, premi asuransi kendaraan otomatis mengikuti.
“Kalau leasing tumbuh, premi kami ikut naik. Strategi diversifikasi ini membuat kami tidak terlalu tergantung pada satu sektor,” ujarnya.
Strategi Penetrasi Luas
Asuransi Astra juga aktif memperluas penetrasi ke berbagai komunitas kendaraan, termasuk pemilik mobil listrik dan hybrid, serta mobil baru maupun bekas.
“Kami menjangkau semua segmen: listrik, hybrid, mobil baru, mobil bekas, semua ada. Strategi ini memastikan kami tetap relevan dan bisa menangkap peluang pasar yang berbeda,” kata Iwan.
Dengan pendekatan portofolio yang seimbang dan penetrasi pasar yang luas, Asuransi Astra menilai meski penjualan otomotif menurun, kinerja asuransi kendaraan tetap dapat terjaga, sehingga sektor ini masih memiliki prospek stabil di 2026.



















