Liputan24times — Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan sinyal positif di awal perdagangan Jumat (12/12/2025). Mengacu data Refinitiv, rupiah dibuka menguat ke posisi Rp16.620 per dolar AS, naik sekitar 0,27% dibandingkan penutupan kemarin yang berada di Rp16.665 per dolar.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terlihat bergerak stabil di level 98,370, menguat tipis 0,03% setelah melemah dalam dua hari terakhir.
Dampak Kebijakan The Fed
Penguatan rupiah hari ini tidak lepas dari sentimen global, terutama setelah bank sentral AS, The Federal Reserve, resmi memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Kebijakan yang sudah diprediksi pasar tersebut membuat minat investor terhadap aset berbasis dolar berkurang, memberi ruang bagi mata uang negara berkembang untuk bergerak positif.
Selain penurunan suku bunga, pasar juga merespons langkah The Fed yang mulai membeli surat utang pemerintah jangka pendek mulai 12 Desember. Program pembelian T-bills tersebut akan mencapai sekitar US$40 miliar, ditambah pengalihan US$15 miliar dari aset MBS yang jatuh tempo—total injeksi likuiditas mencapai US$55 miliar sepanjang Desember.
Langkah ini menekan imbal hasil US Treasury dan mengurangi daya tarik dolar AS sebagai aset safe haven. Dampaknya, mata uang Asia termasuk rupiah mendapatkan dorongan.
Akhir Pekan Bernuansa Positif
Dengan kombinasi melemahnya dolar secara global dan meningkatnya likuiditas pasar AS, rupiah diperkirakan masih berpeluang bergerak stabil hingga sesi perdagangan sore.
Namun, pelaku pasar tetap perlu mengantisipasi pergerakan eksternal yang cepat berubah, terutama menjelang rilis data ekonomi AS berikutnya.



















