Liputan24times — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan peningkatan signifikan kasus campak global. Tahun lalu, 59 negara mengalami wabah besar atau gangguan layanan kesehatan, hampir tiga kali lipat dibanding 2021. Menariknya, seperempat dari wabah ini terjadi di negara yang sebelumnya sudah bebas campak, termasuk Kanada dan Amerika Serikat.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menekankan campak tetap menjadi virus paling menular di dunia. Meskipun vaksin campak murah dan efektif, penyakit ini memanfaatkan celah dalam cakupan imunisasi. WHO mencatat lebih dari 30 juta anak di seluruh dunia tidak terlindungi vaksin campak pada 2024.
Beberapa faktor penyebab lonjakan kasus:
1. Turunnya sumber daya untuk vaksinasi dan pengawasan penyakit, termasuk dukungan pemerintah yang berkurang.
2. Pandemi Covid-19 yang memukul program imunisasi rutin, membuat banyak anak ketinggalan jadwal vaksin.
3. Misinformasi tentang vaksin, meski masalah utama tetap soal akses dan fondasi sistem imunisasi yang lemah.
Secara global, kematian akibat campak memang menurun sejak awal 2000-an, dan beberapa negara berhasil mencapai status eliminasi. Namun, WHO menekankan bahwa setiap kematian akibat campak sebenarnya bisa dicegah dengan vaksin yang tersedia luas.
Hingga 2024, 84% anak dunia menerima dosis pertama vaksin campak, dan 76% menerima dosis kedua, meninggalkan sekitar 30 juta anak yang rentan. WHO memperingatkan, tanpa perbaikan sistem imunisasi, target eliminasi campak global akan semakin sulit dicapai.



















