Liputan24Times — Gelombang investasi kecerdasan buatan (AI) terus meningkat di berbagai perusahaan teknologi global.
Namun di tengah derasnya aliran dana untuk pengembangan AI dan pembangunan pusat data, ribuan pekerja justru menghadapi pemutusan hubungan kerja (PHK).
Sejumlah raksasa teknologi seperti Meta, Amazon, Microsoft, Oracle, Cisco, hingga Coinbase diketahui memangkas tenaga kerja dalam beberapa bulan terakhir.
Banyak perusahaan mengalihkan anggaran operasional mereka untuk mempercepat pengembangan AI, memperkuat infrastruktur komputasi, dan meningkatkan efisiensi bisnis.
Meta menggelontorkan investasi AI senilai lebih dari Rp1.700 triliun pada 2026, sementara Amazon dan perusahaan teknologi lainnya juga mengalokasikan dana ratusan hingga ribuan triliun rupiah untuk proyek serupa.
Di sisi lain, perusahaan beralasan restrukturisasi diperlukan untuk menyesuaikan kebutuhan bisnis di era AI.
Beberapa eksekutif bahkan menilai teknologi AI mampu menggantikan sebagian tugas yang sebelumnya dikerjakan manusia.
Meski demikian, sejumlah pakar menilai AI bukan satu-satunya penyebab PHK massal.
Banyak perusahaan memanfaatkan momentum perkembangan AI untuk melakukan efisiensi biaya dan merombak struktur organisasi agar lebih ramping.
Fenomena ini menunjukkan sisi lain revolusi AI. Saat teknologi berkembang semakin cepat, dunia kerja juga menghadapi perubahan besar yang memaksa perusahaan dan karyawan beradaptasi dengan kebutuhan baru.



















