PEMALANG, Liputan24times– Bencana banjir bandang yang menerjang Desa Sima, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang beberapa hari lalu menyisakan persoalan pelik bagi warga sekitar. Selain kerusakan material di lokasi bencana, ribuan warga di Desa Banyumudal kini harus berjuang melawan krisis air bersih akibat terputusnya pipa utama PDAM.
Sudah lebih dari sepekan, aliran air bersih terhenti total setelah infrastruktur pipa utama rusak parah diterjang arus banjir. Kondisi ini memaksa warga di tiga dusun, yakni Dusun Simadu, Dusun Tumanggal, dan Dusun Gondang, memutar otak untuk memenuhi kebutuhan domestik mereka.
Ketiadaan pasokan air membuat aktivitas harian warga terhambat. Untuk keperluan memasak dan mencuci, warga terpaksa mencari sumber air yang jauh dari pemukiman. Bahkan, tidak sedikit warga yang memilih menampung air hujan sebagai solusi darurat.
”Warga di tiga dukuh terpaksa mencari air bersih ke desa lain, dan kalau hujan turun, banyak yang memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari karena air PDAM benar-benar mati total,” ujar salah satu warga setempat.

Merespons keluhan warga yang kian mendesak, tim gabungan lintas instansi langsung bergerak melakukan intervensi. Posko Banjir Bandang mengerahkan armada tangki air untuk menyuplai kebutuhan warga di titik-titik terdampak.
Aksi kemanusiaan ini melibatkan kolaborasi antara Pemkab Pemalang, BPBD, Baznas, Pemerintah Desa Banyumudal, serta relawan dari Moga Rescue (MRC).
Dian, salah satu relawan Moga Rescue, menjelaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan warga tidak kekurangan air konsumsi sementara perbaikan pipa utama oleh pihak PDAM masih berlangsung.
“Alhamdulillah, untuk hari ini puluhan ribu liter air bersih sudah tersalurkan kepada warga di tiga dusun terdampak. Kami turun langsung memberikan support agar beban warga sedikit berkurang,” ujar Dian saat ditemui di lokasi penyaluran, Minggu (1/2/2026).
Hingga berita ini diturunkan, petugas teknis dari PDAM masih berupaya melakukan perbaikan pada pipa utama yang rusak. Medan yang sulit dan dampak kerusakan yang cukup masif menjadi tantangan tersendiri dalam mempercepat normalisasi aliran air.
Pemerintah setempat mengimbau warga untuk tetap sabar dan melaporkan jika ada wilayah yang belum terjangkau bantuan air bersih agar tim logistik dapat segera melakukan penjadwalan pengiriman.




















