PEMALANG Liputan24times– Bunda PAUD Kabupaten Pemalang, Noor Faizah Maenofie, secara tegas melarang praktik calistung (baca, tulis, hitung) bagi anak-anak di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Penekanan utama di tingkat PAUD adalah pengembangan pendidikan karakter dan keterampilan motorik anak.
Penegasan ini disampaikan saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Kelompok Kerja Bunda PAUD Tingkat Kabupaten Pemalang di Gatra Kencana Bojongnangka, pada Selasa (2/12/2025). Rakor ini dihadiri perwakilan dari berbagai dinas terkait, seperti Diskominfo, Bappeda, Kemenag, Dinkes, Dinsos KBPP, Disdukcapil, dan Dinpermasdes Pemalang.
Ditemui usai acara, Maenofie meminta agar lembaga PAUD menolak orang tua yang menitipkan anaknya dengan harapan lulus sudah bisa calistung.
“Di PAUD itu tidak ada calistung. Kalau ada orang tua yang menitipkan anaknya, kemudian ketika lulus diharapkan harus sudah bisa calistung, lebih baik tidak usah diterima,” tegasnya.
Ia menambahkan, yang harus ditekankan adalah pendidikan karakter, mengasah motorik halus dan motorik kasar, serta mengadakan kegiatan outing class untuk stimulasi belajar anak di luar kelas.
Senada dengan Bunda PAUD, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Pemalang, Ismun Hadiyo, menjelaskan bahwa pelayanan PAUD memang bukan pada calistung, melainkan fokus pada pembentukan karakter.
“Pelayanan PAUD itu bukan anak disuruh belajar calistung tapi menekankan pada pendidikan karakter, mulai dari kebiasaan anak dan saat beraktivitas termasuk MBG (Makan Bersama Guru),” kata Ismun.
Selain penekanan pada kurikulum, Maenofie juga menyoroti pentingnya integrasi data anak dan peningkatan mutu pendidik.
Pertama, ia meminta agar semua anak yang baru lahir dan mendapatkan layanan di fasilitas kesehatan wajib memiliki Kartu Identitas Anak (KIA) dan menjalani pemeriksaan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK), ditambah dengan pemeriksaan golongan darah.
Kedua, Maenofie meminta agar Kartu Kembang Anak (KKA) dari Dinas Sosial dapat diperbarui dan dikolaborasikan dengan Dinas Kesehatan, mengingat Dinas Kesehatan memiliki Buku KIA yang diperbarui setiap tahun.
Penegasan berikutnya adalah mengenai penilaian kinerja. Menurutnya, untuk meningkatkan kualitas PAUD, tidak hanya kepala sekolah yang dinilai, tetapi pendidiknya juga harus mendapatkan penilaian secara berkala.
“Kalau misalnya dia tidak mendapatkan penilaian atas dirinya sendiri, tidak di-update untuk ilmunya, pasti anak-anaknya akhirnya juga akan terdampak,” lanjutnya, menekankan pentingnya pengembangan diri guru.
Terakhir, Maenofie menyoroti rencana bantuan dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia) yang berupa tempat sampah. Ia menggarisbawahi agar bantuan diarahkan pada hal yang lebih esensial, yaitu komposter (alat pengolah sampah) daripada sekadar tempat sampah.
“Karena kalau tempat sampah itu hanya memilah-milih sampah, tapi kalau komposter itu sudah pengolahan sampah,” pungkasnya.



















