Liputan24Times — Persaingan teknologi energi masa depan kembali memanas.
China mencatat kemajuan penting dalam pengembangan energi fusi nuklir setelah reaktor Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) berhasil melampaui batas kepadatan plasma yang selama puluhan tahun dianggap sebagai hambatan utama.
Pencapaian ini memperkuat posisi China dalam perlombaan menciptakan sumber energi bersih berkapasitas besar yang berpotensi mengubah masa depan kebutuhan listrik dunia.
Reaktor fusi EAST atau yang sering dijuluki sebagai “matahari buatan” kembali mencetak pencapaian penting.
Dalam eksperimen terbaru, para peneliti berhasil mengoperasikan plasma pada tingkat kepadatan yang melampaui batas Greenwald, sebuah ambang yang selama ini menjadi standar keamanan dalam pengembangan reaktor tokamak.
Keberhasilan tersebut membuka peluang baru untuk menghasilkan energi lebih besar tanpa harus memperbesar ukuran reaktor maupun meningkatkan suhu operasional secara ekstrem.
EAST bekerja dengan meniru proses yang terjadi di Matahari. Reaktor ini menggunakan medan magnet kuat untuk mengurung plasma bersuhu sangat tinggi sehingga inti atom dapat bertabrakan dan menyatu, lalu menghasilkan energi fusi.
Selama bertahun-tahun, para ilmuwan menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas plasma ketika kepadatannya meningkat.
Padahal, semakin tinggi kepadatan plasma, semakin besar pula energi yang dapat dihasilkan dari reaksi fusi.
Melalui pencapaian terbaru ini, tim peneliti China menunjukkan bahwa batas Greenwald bukan lagi hambatan mutlak.
Hasil tersebut juga mendekatkan dunia pada target “fusion ignition”, yaitu kondisi ketika reaksi fusi mampu mempertahankan dirinya sendiri dengan kebutuhan energi eksternal yang jauh lebih kecil.
Jika teknologi ini terus berkembang, energi fusi berpotensi menjadi sumber listrik masa depan yang hampir tanpa emisi karbon, memiliki bahan bakar melimpah, serta mampu menghasilkan energi dalam jumlah sangat besar.



















