SITUBONDO, Liputan24tims– Bagi Suwono, jabatan bukanlah sekadar kursi kekuasaan atau posisi struktural dalam birokrasi. Baginya, setiap amanah adalah tanggung jawab moral yang harus dipertanggungjawabkan kepada negara, masyarakat, hingga Tuhan Yang Maha Esa.
Sejak resmi menakhodai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Situbondo pada Juni 2025 lalu, Suwono membawa angin segar melalui kepemimpinan yang berintegritas dan penuh dedikasi. Meski sebagian besar kariernya dihabiskan melanglang buana di luar Pulau Jawa hingga ke ibu kota Jakarta, penempatan di Situbondo ia terima dengan kepatuhan penuh sebagai abdi negara.
Janji Pengabdian di Penghujung Karier
Dalam sebuah kesempatan yang emosional namun tegas, Suwono melontarkan pernyataan yang menggambarkan kedalaman komitmennya. Di sisa lima tahun masa pengabdiannya sebelum memasuki purna tugas (pensiun), ia menegaskan tidak ada lagi yang ia cari selain nama baik dan pengabdian tulus.
“Hidup, jiwa, dan darah saya pertaruhkan untuk jabatan ini. Lima tahun lagi saya memasuki masa pensiun, lalu apa lagi yang dicari di dunia ini,” tegas Suwono dengan nada penuh keyakinan, Selasa (13/1/2026).
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Di bawah kepemimpinannya, Lapas Kelas IIB Situbondo kini bertransformasi menjadi institusi yang lebih tertib, aman, dan kondusif. Stabilitas keamanan terjaga berkat koordinasi antarpetugas yang kian solid.
Pendekatan Tegas Namun Humanis
Suwono menerapkan gaya kepemimpinan yang unik: Tegas dalam aturan, namun humanis dalam pendekatan. Ia percaya bahwa reformasi pemasyarakatan tidak boleh hanya berfokus pada penghukuman, melainkan pada pembinaan karakter.
Di tangannya, berbagai program pembinaan ditingkatkan secara signifikan, meliputi:
* Pembinaan Kepribadian & Keagamaan: Memperkuat mental spiritual warga binaan.
* Program Kemandirian: Pelatihan keterampilan kerja agar warga binaan memiliki bekal ekonomi saat kembali ke masyarakat.
* Penguatan Integritas Internal: Pengetatan pengawasan untuk memastikan tidak ada penyimpangan di lingkungan petugas.
“Seluruh jajaran harus bekerja sesuai aturan. Kita jaga marwah institusi ini dengan profesionalisme dan menghindari segala bentuk pelanggaran,” tambahnya.
Warisan Kepemimpinan
Meski masa pensiun sudah di depan mata, Suwono tidak menunjukkan tanda-tanda mengendurkan semangat. Sebaliknya, ia justru bertekad meninggalkan legacy atau warisan kepemimpinan yang bersih dan sistem kerja yang tertata rapi.
Langkah-langkah yang diambil Suwono di Lapas Situbondo menjadi potret nyata dari seorang aparatur sipil negara (ASN) yang selesai dengan dirinya sendiri. Ia tidak lagi mengejar materi atau jabatan yang lebih tinggi, melainkan fokus memberikan yang terbaik bagi organisasi di masa-masa terakhir pengabdiannya.
Kini, Lapas Kelas IIB Situbondo bukan hanya sekadar tempat menjalani masa tahanan, melainkan telah menjadi ruang transformasi bagi warga binaan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, mandiri, dan bertanggung jawab.(Tim GWI)




















