banner 728x250

Kenaikan Harga Kedelai Impor, Mengapa Perajin Tahu Semarang Tak Beralih ke Kedelai Lokal?

  • Bagikan
Kenaikan Harga Kedelai Impor, Mengapa Perajin Tahu Semarang Tak Beralih ke Kedelai Lokal?
Kenaikan Harga Kedelai Impor, Mengapa Perajin Tahu Semarang Tak Beralih ke Kedelai Lokal?
banner 468x60

Lonjakan harga kedelai impor kembali menjadi sorotan, terutama bagi industri tahu rumahan di Kota Semarang, Jawa Tengah. Harga kedelai yang biasanya stabil kini meroket, memaksa para perajin tahu untuk memutar otak agar tetap bisa bertahan. Namun, meskipun harga bahan baku impor naik drastis, sebagian besar pelaku usaha tahu tetap enggan beralih ke kedelai lokal. Apa alasan di balik keputusan ini?

Harga Kedelai Impor Naik Tajam

Example 300x600

Setelah momen Lebaran, harga kedelai impor mengalami kenaikan yang signifikan. Dari semula sekitar Rp8.500 per kilogram, kini harga kedelai impor telah menembus Rp9.700 per kilogram. Kenaikan ini membuat beban biaya produksi tahu semakin berat, terutama bagi industri kecil dan menengah yang selama ini sangat bergantung pada bahan baku impor.

Joko Wiyatno, pemilik usaha Tahu ECO di Jalan Tandang Raya, Semarang, mengaku kenaikan harga ini membuatnya terpaksa menyiasati produksi dengan cara mengecilkan ukuran tahu. “Kalau tidak dikurangi ukurannya, ya kami rugi. Mau tak mau harus disiasati,” ujarnya saat ditemui di rumah produksinya, Jumat (18/4/2025).

Setiap harinya, Tahu ECO membutuhkan sekitar satu ton kedelai untuk menjaga produksi tetap berjalan. Kenaikan harga bahan baku ini otomatis membuat biaya operasional melonjak drastis.

Kedelai Lokal Belum Jadi Pilihan

Meski harga kedelai impor naik, Joko dan banyak perajin lainnya belum bisa mengandalkan kedelai lokal sebagai alternatif. Alasannya bukan semata-mata soal harga, tetapi lebih pada kualitas dan ketersediaan.

“Kedelai lokal kualitasnya belum sebanding dengan kedelai impor, terutama untuk pembuatan tahu. Tekstur dan rasa tahunya beda, kurang sesuai dengan standar yang kami jaga selama ini,” jelas Joko.

Ia juga menambahkan bahwa stok kedelai lokal di pasaran sangat terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam jumlah besar, perajin sulit mendapatkan pasokan kedelai lokal secara konsisten. Hal ini menjadi kendala utama bagi mereka yang ingin beralih.

Faktor Eksternal Pengaruhi Harga

Selain dari sisi pasokan, faktor eksternal turut memengaruhi lonjakan harga kedelai impor. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat menjadi salah satu penyebab utama. Ditambah lagi, kondisi geopolitik global dan perang dagang antara negara produsen kedelai turut memperburuk situasi.

“Naik-turunnya nilai tukar rupiah membuat harga kedelai jadi tidak stabil. Ini membuat kami kesulitan untuk memperkirakan biaya produksi jangka panjang,” ujar Joko.

Harapan untuk Solusi Pemerintah

Dalam kondisi seperti ini, para perajin tahu berharap ada campur tangan pemerintah untuk membantu mengatasi permasalahan. Mulai dari pengendalian harga kedelai impor, hingga pengembangan kedelai lokal yang berkualitas dan berkelanjutan.

“Kalau pemerintah bisa bantu tingkatkan kualitas kedelai lokal dan jamin pasokannya, kami pasti siap beralih. Tapi selama belum ada jaminan kualitas dan ketersediaannya, kami belum bisa tinggalkan kedelai impor,” harap Joko.

Kenaikan harga kedelai impor menjadi tantangan besar bagi industri tahu di Semarang. Meski kedelai lokal tersedia, kualitas yang belum setara dan pasokan yang terbatas membuat perajin enggan berpindah. Dalam situasi ini, diperlukan langkah nyata dari pemerintah untuk menciptakan solusi jangka panjang—baik dalam mengendalikan harga kedelai impor maupun meningkatkan potensi kedelai lokal sebagai bahan baku andalan industri pangan nasional.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *