Liputan24times — Saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) mencuri atensi market pasar di awal 2026.
Pada sesi I perdagangan Rabu (25/2/2026), saham BIPI naik melejit ke 13,33% ke level Rp306 seiring derasnya aksi beli investor asing.
Dikutip dari data Stockbit Rabu, (25/2/2026), investor asing memborong 869,78 juta saham BIPI dan melepas sekitar 486,69 juta saham, sehingga tercatat net buy asing mencapai 382,81 juta saham.
Aksi akumulasi ini menempatkan BIPI sebagai saham dengan pembelian bersih asing terbesar pada sesi tersebut.
Di lantai Bursa Efek Indonesia, lonjakan harga ini memperpanjang tren positif BIPI sepanjang tahun berjalan.
Secara year to date (YtD), saham BIPI telah melonjak lebih dari 255%, mencerminkan minat investor yang terus meningkat.
Kinerja Keuangan Masih Tertekan
Meski pergerakan sahamnya impresif, kinerja fundamental perseroan masih menghadapi tantangan.
Sepanjang Januari–September 2025, Astrindo Nusantara mencatatkan penurunan pendapatan 53,4% secara tahunan (YoY) menjadi US$194,83 juta, dari sebelumnya US$418,07 juta pada periode yang sama 2024.
Penurunan pendapatan turut berdampak pada laba. Laba bruto menyusut dari US$66,81 juta menjadi US$26,84 juta, sementara perseroan berbalik mencatatkan rugi bersih US$5,42 juta, dibandingkan laba US$3,58 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Manajemen Astrindo menegaskan tetap optimistis menatap 2026 dengan sejumlah strategi.
Direktur Utama Astrindo Nusantara Infrastruktur, Raymond Anthony Gerungan, menyebut sektor batu bara masih menjadi kontributor utama pendapatan, khususnya dari tambang Jembayan.
Selain itu, perseroan tengah menyiapkan proyek waste-to-energy (WtE) dengan nilai investasi sekitar US$300–350 juta, serta pengembangan mini pabrik LNG yang ditargetkan mulai beroperasi dan mencatatkan penjualan pada kuartal II 2026.
Langkah diversifikasi ini diharapkan dapat memperkuat kinerja perseroan di tengah fluktuasi harga komoditas dan dinamika sektor energi.










