PEMALANG, Liputan24times– Sebuah fenomena unik sekaligus memprihatinkan mendadak menjadi buah bibir masyarakat di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Didorong oleh rasa kecewa terhadap kualitas bantuan pangan, seorang warga di Desa Walangsanga, Kecamatan Moga, secara terang-terangan memasang banner yang menyatakan penolakan terhadap sumbangan berupa beras jatah Bulog dari para tamu undangan hajatan.
Aksi pasang banner ini langsung memicu reaksi beragam, mulai dari gelak tawa hingga keprihatinan mendalam di tengah masyarakat sekitar. Langkah berani sekaligus menggelitik hati ini diambil oleh sang pemilik hajat lantaran menilai kualitas beras bantuan pemerintah yang baru saja dibagikan oleh pihak desa beberapa hari lalu, memiliki kualitas yang sangat rendah dan tidak layak disajikan dalam momen sakral seperti kenduri atau pesta perkawinan.
Sudah menjadi tradisi yang mengakar kuat di wilayah pedesaan di Indonesia, termasuk Pemalang, bahwa setiap kali ada tetangga yang menggelar hajatan, warga yang datang menyumbang—atau akrab disebut kondangan—akan membawa beras, uang, maupun barang kebutuhan pokok lainnya sebagai bentuk gotong royong. Namun, pemandangan berbeda justru tersaji di halaman rumah warga Walangsanga ini. Sebuah spanduk mencolok bertuliskan, “Ngampurane Sedulur, Tidak Menerima Kondangan Beras Bulog,” terpampang nyata menyambut setiap tamu yang datang.
Menurut penuturan beberapa warga setempat, langkah ini diduga diambil bukan untuk menolak silaturahmi, melainkan sebagai bentuk kejujuran atas kualitas beras bantuan yang memang dirasa kurang layak. Pemilik hajat tentu ingin memberikan hidangan terbaik bagi para tamu yang datang dan khawatir jika beras tersebut tidak bagus atau kurang nikmat saat diolah dalam porsi besar.
Sontak saja, keberadaan banner tersebut memicu situasi yang canggung sekaligus menggelitik di lapangan. Sempat ada cerita dari seorang tamu undangan yang datang tanpa mengetahui adanya pemberitahuan tersebut. Begitu hendak melangkahkan kaki ke halaman rumah dan membaca tulisan di banner dengan jelas, ia seketika mengurungkan niatnya untuk masuk. Tamu tersebut memilih pulang kembali karena telanjur membawa beras bantuan Bulog.
Tidak hanya itu, insiden spanduk ini juga berdampak pada tingkat kehadiran undangan. Beberapa warga yang mengantongi beras serupa mengaku memilih untuk tidak datang ke acara tersebut. Mereka enggan hadir karena merasa takut jika bawaannya akan ditolak secara terang-terangan, atau khawatir akan menerima sambutan dan gurat wajah yang dingin dari sang pemilik rumah.
Hingga kini, peristiwa menggelitik di Desa Walangsanga ini masih terus menjadi bahan obrolan hangat di warung-warung kopi. Di satu sisi, kejadian ini menghadirkan tawa akibat situasi canggung yang tercipta antar-tetangga. Namun di sisi lain, fenomena ini menjadi tamparan keras dan kritik sosial yang nyata bagi instansi terkait guna memastikan bahwa bantuan pangan yang disalurkan kepada masyarakat benar-benar memenuhi standar kualitas yang layak.



















