Liputan24Times — Meta Platforms akan menghentikan fitur enkripsi end-to-end pada pesan langsung (Direct Message/DM) di Instagram mulai 8 Mei 2026.
Kebijakan ini menandai perubahan besar dalam sistem privasi pesan di platform tersebut dikutip dari cnn Selasa, (5/5/2026).
Perusahaan mengungkapkan rencana ini melalui pembaruan di halaman bantuan Instagram serta revisi unggahan lama yang pertama kali muncul pada 2022.
Dengan keputusan tersebut, pengguna tidak lagi bisa mengaktifkan enkripsi end-to-end untuk percakapan DM.
Langkah ini juga berarti Meta akan memiliki akses terhadap isi pesan antar pengguna. Sebelumnya, perusahaan hanya dapat melihat pesan dari akun yang tidak mengaktifkan fitur enkripsi.
Beberapa pengguna di Australia bahkan sudah lebih dulu melihat fitur tersebut dinonaktifkan.
Meta menyebut rendahnya tingkat penggunaan sebagai alasan utama. Perusahaan menilai hanya sedikit pengguna yang memanfaatkan opsi enkripsi di DM, sehingga mereka memilih untuk menghapusnya secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan.
CEO Mark Zuckerberg sebelumnya sempat mendorong integrasi enkripsi end-to-end di seluruh layanan Meta sejak 2019.
Namun implementasinya baru berjalan terbatas pada 2023 dan kini justru dihentikan untuk Instagram.
Sebagai alternatif, Meta mengarahkan pengguna yang ingin tetap menikmati komunikasi terenkripsi untuk beralih ke WhatsApp, yang masih mempertahankan sistem keamanan tersebut.
Keputusan ini memicu kritik dari berbagai pihak, termasuk lembaga perlindungan anak dan aparat penegak hukum seperti Federal Bureau of Investigation dan Interpol.
Mereka menilai enkripsi dapat menghambat upaya deteksi aktivitas berbahaya, khususnya yang berkaitan dengan perlindungan anak di ruang digital.
Di sisi lain, sejumlah pemerhati privasi menilai langkah Meta justru berpotensi melemahkan keamanan pengguna.
Mereka menekankan bahwa perusahaan teknologi seharusnya memperkuat perlindungan data, bukan menguranginya.
Pengamat kebijakan digital juga melihat faktor bisnis sebagai pendorong keputusan ini. Dengan akses ke isi pesan, Meta berpeluang memanfaatkan data untuk pengembangan iklan maupun pelatihan teknologi kecerdasan buatan.
Meski perusahaan belum mengonfirmasi penggunaan tersebut, tekanan komersial dinilai bisa mendorong ke arah itu.
Perubahan ini sekaligus menunjukkan arah strategi Meta yang mulai memisahkan fungsi media sosial dan layanan percakapan.
Jika sebelumnya perusahaan berencana mengintegrasikan sistem pesan lintas platform, kini pendekatan tersebut tampak mulai bergeser.
Ke depan, kebijakan ini berpotensi memicu perdebatan lanjutan antara kebutuhan privasi pengguna, kepentingan bisnis perusahaan, serta tuntutan keamanan digital global.



















