Liputan24times – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto turun langsung ke lokasi bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra Barat (Sumbar). Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal sekaligus mempercepat pemulihan infrastruktur dan kehidupan warga terdampak.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan, setibanya di Sumatra Barat pada malam hari, Presiden Prabowo langsung menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri serta pimpinan TNI. Rapat tersebut membahas langkah-langkah strategis penanganan bencana, pemulihan wilayah terdampak, hingga evaluasi persoalan tata kelola lingkungan.
“Begitu tiba, presiden langsung memimpin rapat untuk membahas penanganan bencana dan koordinasi lintas kementerian serta TNI,” ujar Prasetyo di Jakarta.
Fokus Pengungsi dan Hunian Sementara
Usai rapat, Presiden Prabowo melanjutkan agenda dengan meninjau sejumlah titik terdampak bencana. Di Kayu Pasak, Palembayan, Kabupaten Agam, presiden menyempatkan diri melihat langsung kondisi pengungsi sekaligus mengecek kesiapan pembangunan hunian sementara.
Menurut Prasetyo, presiden memberikan arahan agar pembangunan hunian sementara dipercepat dan, bila memungkinkan, segera dilanjutkan ke tahap relokasi hunian tetap demi memberikan kepastian tempat tinggal bagi warga terdampak.
“Fokus utama kita saat ini adalah hunian sementara. Jika memungkinkan, langsung diarahkan menjadi hunian tetap,” kata Prasetyo menyampaikan pesan presiden.
Tinjau Jembatan Bailey dan Akses Jalan Nasional
Kunjungan Presiden Prabowo berlanjut ke Desa Kayu Tanam, lokasi pembangunan jembatan Bailey yang sebelumnya terputus akibat banjir. Jembatan sementara tersebut dibangun oleh TNI dengan dukungan masyarakat setempat guna memulihkan konektivitas antarwilayah.
Prasetyo menyebut, saat ini terdapat sekitar 35 jembatan Bailey yang sedang dikerjakan di berbagai wilayah terdampak bencana dan proses pembangunannya terus dikebut.
“Kurang lebih ada 35 jembatan Bailey di seluruh wilayah terdampak, dan saat ini pengerjaannya sedang dipercepat,” jelasnya.
Presiden juga meninjau langsung perbaikan ruas jalan nasional Padang–Bukittinggi via Lembah Anai, yang merupakan jalur vital penghubung utama di Sumatra Barat dan sempat terputus akibat banjir dan longsor.
Terima Laporan Kondisi Aceh dan Sumatra Utara
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga menerima laporan dari Kepala BNPB terkait perkembangan penanganan bencana di wilayah lain, khususnya Aceh dan Sumatra Utara.
BNPB melaporkan masih terdapat wilayah yang dipenuhi lumpur dan membutuhkan tambahan dukungan personel, terutama di Aceh Tamiang dan Aceh Timur. Menanggapi hal itu, presiden menyetujui penambahan personel TNI dan Polri untuk mempercepat proses pembersihan dan pemulihan.
“Masih ada daerah yang membutuhkan bantuan tambahan personel karena genangan lumpur cukup parah,” ujar Prasetyo.
Instruksi Tegas Soal Tata Kelola Lingkungan
Selain penanganan darurat, Presiden Prabowo juga memberikan perhatian serius terhadap persoalan lingkungan hidup yang dinilai menjadi salah satu faktor memperparah dampak bencana.
Menurut Prasetyo, presiden secara tegas meminta pemerintah daerah untuk memperbaiki tata kelola lingkungan, termasuk penertiban kawasan hutan, evaluasi izin pertambangan, serta aktivitas usaha di bantaran sungai.
“Masalah lingkungan menjadi perhatian khusus presiden, mulai dari kawasan hutan, izin tambang, hingga pembukaan usaha di sepanjang sungai,” katanya.
Arahan tersebut disampaikan langsung kepada Gubernur, Wakil Gubernur, serta para Bupati agar pengelolaan lingkungan ke depan lebih tertib dan berkelanjutan.
Apresiasi untuk Semua Pihak
Di akhir kunjungan, Presiden Prabowo melalui Mensesneg Prasetyo Hadi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan bencana, mulai dari BNPB, TNI, Polri, Basarnas, pemerintah daerah, hingga masyarakat yang turut bergotong royong membantu korban.
“Kita semua bekerja bahu-membahu agar masyarakat bisa segera pulih dan kembali menjalani kehidupan dengan normal,” tutup Prasetyo.



















