Riset Ungkap AI Lebih Mudah Gantikan Programmer daripada Guru

  • Bagikan
banner 468x60

Liputan24Times — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus mengubah pola kerja di berbagai sektor.

Namun, riset terbaru dari Anthropic menunjukkan tidak semua profesi mudah tergantikan teknologi AI dikutip dari The Athletic Minggu, (10/5/2026).

Example 300x600

Perusahaan pengembang AI Claude itu mengungkap profesi guru dan tenaga pendidik masih jauh lebih aman dibanding programmer dalam menghadapi gelombang otomatisasi AI.

Temuan tersebut muncul dalam laporan bertajuk Labor Market Impacts of AI: A New Measure and Early Evidence.

Para peneliti memetakan pekerjaan yang paling rentan terdampak AI sekaligus profesi yang masih membutuhkan peran manusia secara langsung.

Hasil riset menunjukkan AI mulai mengambil alih banyak tugas teknis milik programmer, mulai dari coding, pembaruan sistem, hingga pengelolaan software.

Sebaliknya, AI masih kesulitan menggantikan peran guru karena proses mengajar membutuhkan interaksi sosial, komunikasi emosional, dan pengelolaan kelas secara langsung.

Anthropic menilai kemampuan tersebut masih sulit direplikasi teknologi AI saat ini.

Programmer Jadi Profesi Paling Rentan

Dalam laporan tersebut, programmer menempati posisi teratas sebagai profesi yang paling terpapar otomatisasi AI.

AI kini mampu membantu membuat kode, memperbaiki bug, mengelola perangkat lunak, hingga mempercepat proses pengembangan aplikasi.

Selain programmer, sejumlah profesi digital lain juga mulai mengalami tekanan besar akibat perkembangan AI, seperti customer service, data entry, analis pemasaran, analis keuangan, hingga spesialis dukungan komputer.

Mayoritas pekerjaan tersebut memiliki pola kerja repetitif dan berbasis data sehingga lebih mudah diotomatisasi mesin.

Guru dan Perawat Masih Sulit Digantikan

Di sisi lain, Anthropic mencatat banyak profesi tetap membutuhkan sentuhan manusia dan belum bisa digantikan AI sepenuhnya.

Guru menjadi salah satu contoh paling kuat karena aktivitas mengajar tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membangun interaksi sosial, memahami emosi siswa, dan mengelola dinamika kelas.

Selain tenaga pendidik, profesi perawat, pekerja lapangan, mekanik, koki, hingga pengacara litigasi juga dinilai masih sulit digantikan AI.

Pekerjaan tersebut mengandalkan komunikasi langsung, empati, pengambilan keputusan situasional, serta keterampilan fisik yang belum mampu ditiru sempurna oleh teknologi.

Pekerja Bergaji Tinggi Justru Rentan AI

Menariknya, laporan Anthropic juga menemukan pekerja dengan pendidikan tinggi dan gaji besar justru lebih rentan terdampak AI.

Profesi berbasis komputer dan analisis data kini menjadi target utama otomatisasi karena AI dapat menyelesaikan tugas lebih cepat dan efisien.

Meski begitu, Anthropic menegaskan dampak AI terhadap pasar kerja belum memicu gelombang PHK besar-besaran.

Perusahaan menilai AI saat ini masih lebih banyak berfungsi sebagai alat pendukung produktivitas dibanding pengganti penuh tenaga manusia.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *