PEMALANG, Liputan24times— Kabupaten Pemalang terus membuktikan perannya sebagai salah satu pilar utama penyangga pangan di Jawa Tengah. Langkah ini ditandai dengan menggelar panen raya padi di Desa Kedungbanjar, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Kamis (3/9/2026).
Di lahan seluas 45 hektare milik Kelompok Tani Utama Lima, produktivitas panen kali ini mencatatkan hasil menggembirakan, yakni mencapai rata-rata 7,2 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.
Plt. Bupati Pemalang, Nurkholes, menyampaikan bahwa capaian ini menjadi sinyal positif pemulihan sektor pertanian daerah setelah sempat terdampak perubahan iklim pada 2025. Sepanjang periode Januari hingga September 2026, Pemalang telah membukukan produksi beras sebanyak 168.335 ton dengan rata-rata produktivitas 5,33 ton gabah kering per hektare.
“Kondisi harga gabah saat ini juga sangat menguntungkan petani, berada di kisaran Rp7.500 hingga Rp8.500 per kilogram. Angka ini jauh di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram,” kata Nurkholes di sela-sela kegiatan panen raya.
Meski demikian, Nurkholes mengingatkan adanya tantangan alih fungsi lahan. Luas lahan sawah di Pemalang tercatat menyusut dari 34.181 hektare pada 2024 menjadi 32.733 hektare pada 2025. Untuk menyiasatinya, pemerintah daerah memfokuskan strategi pada perlindungan lahan sisa, perbaikan jaringan irigasi, serta efisiensi lewat modernisasi pertanian.
Guna mendukung target tersebut, sepanjang tahun 2026 Pemalang telah menerima alokasi bantuan benih unggul serta pelbagai alat dan mesin pertanian (alsintan), seperti traktor, pompa air, hingga power sprayer. Penyaluran pupuk bersubsidi pun terus dikejar, di mana realisasi distribusi Urea telah mencapai 64 persen dan NPK sebesar 68 persen per Agustus 2026.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, optimistis target produksi padi provinsi sebesar 10,5 juta ton pada 2026 dapat tercapai. Hingga Agustus, realisasi produksi Jawa Tengah telah menembus 6,69 juta ton atau sekitar 63 persen dari target tahunan.
“Pemalang merupakan salah satu dari lima daerah penyangga produksi padi terbesar di Jawa Tengah. Dukungan alsintan dan optimalisasi irigasi, baik lewat perpompaan maupun jaringan tersier, terus kita dorong agar produktivitasnya terjaga,” tegas Luthfi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menjelaskan bahwa Pemprov Jateng kini menerapkan metode Pertanian Modern (Agriculture Advance System) serta program ‘Pilar Jateng’ untuk memetakan kebutuhan infrastruktur tani secara terintegrasi dan akurat.
Bantuan alsintan modern seperti combine harvester disambut antusias oleh para petani lokal. Ketua Kelompok Tani Sri Berkah 1 Tegalmlati, Kecamatan Petarukan, menuturkan bahwa ketersediaan mesin pemanen ini sangat membantu menekan biaya operasional sekaligus mencegah keterlambatan panen yang kerap merugikan harga jual gabah.

















