Riset Terbaru Ungkap Dampak Negatif AI: Penggunaan Berlebihan Picu Kelelahan Mental

  • Bagikan
banner 468x60

Liputan24Times — Di tengah pesatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence, sebuah riset terbaru mengungkap sisi lain yang perlu diwaspadai.

Penggunaan AI secara intens dalam aktivitas kerja ternyata berpotensi memicu stres hingga kelelahan mental.

Example 300x600

Temuan ini dipublikasikan dalam laporan Harvard Business Review yang menyoroti fenomena baru bernama “AI brain fry” dikutip dari kompas Senin, (4/5/2026).

Istilah tersebut merujuk pada kondisi kelelahan kognitif akibat penggunaan AI secara berlebihan, yang melampaui kapasitas pemrosesan otak manusia.

Dalam studi bertajuk When Using AI Leads to “Brain Fry”, peneliti melibatkan sekitar 1.500 pekerja penuh waktu di Amerika Serikat.

Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian responden mengalami gangguan fokus, kelelahan mental, hingga penurunan kualitas pengambilan keputusan setelah terlalu sering berinteraksi dengan berbagai alat AI.

Sekitar 14 persen partisipan mengaku pernah mengalami kondisi “brain fry”. Fenomena ini paling banyak ditemukan pada profesi yang memiliki intensitas penggunaan teknologi tinggi, seperti pemasaran, pengembangan perangkat lunak, sumber daya manusia, keuangan, hingga teknologi informasi.

Salah satu penulis studi, Julie Bedard, menilai temuan ini sebagai sinyal awal yang perlu diperhatikan perusahaan. Menurutnya, meskipun AI berkembang pesat, kapasitas otak manusia tetap memiliki batas.

“Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi kemampuan kognitif manusia tidak berubah secepat itu,” ujarnya.

Penelitian ini juga mengungkap paradoks dalam penggunaan AI di dunia kerja. Di satu sisi, AI mampu mengurangi beban kerja dengan mengambil alih tugas-tugas repetitif.

Namun di sisi lain, penggunaan beberapa tools AI secara bersamaan justru meningkatkan tekanan mental.

Kondisi ini dipicu oleh banjir informasi, perpindahan tugas yang cepat, serta kebutuhan untuk terus memverifikasi hasil kerja AI.

Banyak pekerja menggambarkan pengalaman tersebut seperti “kabut mental” atau perasaan kepala penuh layaknya membuka terlalu banyak tab dalam satu waktu.

Selain itu, riset sebelumnya juga memperkenalkan istilah “AI slop” atau “workslop”, yang menggambarkan membanjirnya konten dangkal akibat penggunaan AI secara masif, sehingga memperumit alur kerja dan menurunkan kualitas output.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa penggunaan AI perlu dilakukan secara bijak dan terukur.

Alih-alih meningkatkan produktivitas, penggunaan yang berlebihan tanpa manajemen yang tepat justru dapat berdampak pada kesehatan mental dan efektivitas kerja.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *