Liputan24times – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan terkait potensi cuaca ekstrem di Indonesia. Laporan terbaru menyebutkan adanya bibit siklon tropis di perairan sekitar Indonesia yang dapat memicu hujan lebat dan bencana hidrometeorologi di beberapa wilayah.
Menurut BMKG, periode Minggu ke-2 Desember hingga awal Januari diprediksi menjadi masa aktif Monsoon Asia yang meningkatkan intensitas hujan di berbagai daerah. Fenomena ini diperkuat oleh anomali atmosfer seperti Madden Julian Oscillation, gelombang Kelvin, dan Rossby Equator yang dapat memicu hujan ekstrem.
Selain itu, masuknya udara dingin dari Siberia turut memperkuat potensi hujan lebat. BMKG juga mengingatkan kemungkinan munculnya bibit siklon tropis di wilayah selatan Indonesia.
11 Wilayah Waspada Cuaca Ekstrem
BMKG mengidentifikasi 11 wilayah yang berpotensi terdampak bibit siklon tropis, yaitu Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa-Bali, NTB, NTT, Maluku, serta Papua Selatan dan Tengah. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan fenomena cuaca yang dominan meliputi hujan ekstrem, angin kencang, petir, puting beliung, hujan es, dan jarak pandang terbatas yang berpotensi mengganggu transportasi udara maupun pelayanan publik.
“Trennya terus naik. Jawa Barat memimpin frekuensi kejadian hujan ekstrem dan angin kencang, disusul Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ini harus menjadi perhatian kita bersama,” ujar Faisal, Jumat (5/12/2025).
Hujan Tinggi Hingga Sangat Tinggi
BMKG menambahkan, seluruh wilayah Pulau Jawa, Bali, NTT, NTB, sebagian Sulawesi Selatan, serta Papua Selatan diprediksi mengalami hujan tinggi hingga sangat tinggi, dengan intensitas 300–500 mm per bulan pada periode 28 Desember hingga 10 Januari 2025.
Selain hujan lebat, fenomena banjir rob juga berpotensi terjadi di pesisir Jakarta, Banten, dan Pantura Jawa Barat. Hal ini dipicu fase perigee bulan serta bulan purnama pertengahan Desember yang meningkatkan pasang air laut.
Antisipasi dan Kesiapsiagaan
BMKG menghimbau pemerintah daerah, pihak terkait, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, mempersiapkan mitigasi bencana, serta memastikan keselamatan warga di wilayah rawan. Kesiapsiagaan ini meliputi pengaturan sistem drainase, posko tanggap darurat, serta sosialisasi kepada masyarakat mengenai potensi banjir dan angin kencang.
“Informasi ini kami sampaikan agar seluruh pemangku kepentingan dapat melakukan langkah-langkah antisipatif sebelum bencana terjadi,” kata Faisal.
Dengan pemantauan terus-menerus dan koordinasi lintas lembaga, BMKG berharap risiko kerugian akibat cuaca ekstrem dapat diminimalkan.



















